Kecewa Fans Chelsea Seperti Ibu Memarahi Anaknya yang Menghilangkan Tupperware

0
111

Sore itu dibawah hujan dan motor Matic yang cukup sensitif dengan banjir setinggi mata kaki saja membuat hati gundah dan tidak sabar ingin segera pulang ke rumah. Musim ini menjadi momen cukup langka Chelsea bermain di jam Prime Time karena umumnya jam tayang selalu dini hari membuat kebanyakan penggemar merelakan tenaga untuk overthinking mereka ditunda untuk tidur dan bangun di sepertiga malam.

Sampailah di rumah dan disambut baik oleh Havertz, Mount, Ziyech, dan Pulisic dipastikan bermain bersama dari menit awal menghadapi Leeds (13/03/21) yang merupakan momen cukup langka juga mereka bisa bermain bersama dalam satu waktu. Seperti saat melawan Everton, posisi Havertz kembali diletakkan di ujung tombak meskipun mayoritas mengatakan bahwa yang diterapkan Tuchel lagi-lagi soal false nine. Hal yang langka pula Pulisic akhirnya bisa masuk dalam daftar tim karena pada pertandingan sebelumnya dia hanya bermain semenit yang masih lebih lama lampu merah di perempatan kota-kota besar.

Sambil menjemur jas hujan, sepak mula sudah dilakukan. Dengan kondisi lapangan Elland Road yang umm… tidak begitu baik, Chelsea hanya melakukan serangan yang tidak cukup membahayakan untuk Leeds dan ekspetasi kepada Havertz runtuh untuk ujung tombak yang jauh dari klinis. Entah apa yang terjadi pada Pulisic dan Ziyech yang tidak membantu kontribusi nyata di lini serang yang tak tahu arah, hanya terdengar teriakan kepada si rambut klimis Ben Chillwel dari Tuchel yang penuh amarah.

Hiburan penonton saat itu hanya Mendy yang kerja keras untuk membendung serangan agar tetap menjaga rantai nirbobolnya musim ini. Dibantu oleh Andreas sebagai tembok lapis pertama untuknya dan RĂ¼diger yang cukup frustrasi lalu ikut serta membantu membimbing lini serang bagaimana caranya mencetak gol. Masuknya Werner dan Callum Hudson-Odoi tidak membantu banyak di menit akhir dan mungkin ini salah satu laga yang membosankan dan momen langka pula karena kedua tim juga terlihat seperti tidak ada visi untuk mencetak gol. Aneh, gawang begitu besar dan bukan dari tumpukan sandal membuat penonton untuk terus beristighfar.

Selagi kami semua ingat pada masa kecil itu, anak lelaki umumnya berambisi mencetak gol lebih banyak ke gawang lapangan sekolah sebelum kembali ke rumah. Dengan kondisi kaus kaki yang berlubang dan seragam yang lusuh, kami tetap ceria dan semangat meski tas punggung lebih berat serta lebih besar dari postur tubuh. Sesampailah dirumah nyatanya tidak disambut baik oleh Ibu karena kami lupa membawa kotak bekal yang tertinggal di sekolah. Kesenangan menjadi runtuh karena mendengar Ibu yang kesal dan mengeluh, kondisi rumah saat itu semula tenang menjadi kisruh. Kami bisa saja disuruh kembali ke sekolah untuk mencari dan menemukan kotak bekal yang dianggap mewah.

Kali ini kembali terjadi usai laga, para penggemar kecewa dengan hasil yang lagi-lagi memupuskan harapan memangkas jarak dengan posisi ketiga. Tiada lagi makna dari sebuah jam tayang prima untuk wilayah Asia, kekesalan mereka di sosial media seperti halnya yang pernah kami rasakan masa kecil kala itu yang masih sering bermain bola. Seakan penggemar tidak mendapatkan hasil yang diinginkan dan mungkin mencegah para pemain untuk tetap berada di stadion dan dilarang kembali pulang ke rumah hingga menemukan dua poin yang berfaedah.

Harga waktu yang direlakan penggemar mungkin setara mahalnya dengan dengan para pemain peninggalan mantan pelatih yang dirasa hambar. Setelah pujian, muncul-lah tantangan. Harapan penggemar masih sama bahwa musim ini masih bisa diselamatkan, masih banyak yang bisa dicapai dan masih banyak yang dilakukan di musim ini dan musim depan. Hal ini jangan sampai terulang karena mungkin akan bernasib sama para penggemar Chelsea kecewa dan menahan para pemain dilarang untuk pulang.

Jangan berlebihan, biasa aja. Sabar.

Salam

Fans Far yang tidak bar-bar

Leave a Reply