Pada Akhirnya Tuchel Berhasil Menyenangkan Semua Orang

0
193

Hari yang ditunggu oleh seluruh fans Chelsea telah tiba. Penentuan nasib baik ada di laga melawan Atletico Madrid pada leg ke-2 (18/03/21) untuk Chelsea bisa melangkah lebih jauh lagi di Champions League. Perasaan sulit tidur seperti menunggu pagi menyambut lebaran atau gelisah karena mendapatkan panggilan wawancara kerja untuk kali pertama, fans hanya menyiapkan kontribusi kelapangan dada untuk mendukung penuh bahwa tim kesayangannya tidak dipermalukan lagi oleh tim Spanyol.

Kilas balik sejenak untuk memandang Sevilla yang semua orang menganggap menjadi salah satu tim yang dapat mendominasi di babak grup, namun dengan hasil anti-klimaks yang terjadi adalah Chelsea hanya membutuhkan 4 gol Olivier Giroud untuk memastikan jatah babak 16 besar berada di tangan London Biru ini. Menakutkan tapi ternyata mudah ditaklukan. Giroud hanya bisa mengucap: “TERIMA KASIH A̶R̶S̶E̶N̶A̶L̶ LAMPARD!”

Daftar pemain sudah dipublikasikan, kekhawatiran fans hanya karena Chelsea kehilangan 4 pemain penting namun 3 diantaranya masih dianggap tidak dibutuhkan (Jorginho, Andreas, Mount) yang entah mengapa sampai sekarang seruan kritis sok edgy ingin argumennya berbeda dengan yang lain dengan kesadaran penuh menyingkirkan mereka bertiga dari tim.

Hanya sosok Thiago Silva karena datang sebagai legenda hidup untuk bangsa Brasil dan juga Tuchel, dia satu-satunya yang masih-make-sense untuk dihargai. At the end, tenang saja untuk kalian para pengkriktik sampai mati saya memperjuangkan hak kalian bersuara meskipun kadang arah pembicaraannya entah kemana.

Bukan seperti orientasi pengenalan kampus yang isinya superioritas orang-orang yang meninggalkan jam kuliah hanya ingin menginvestasikan emosi ke rekan juniornya, era Chelsea dari musim lalu bahkan pertengahan musim ini sudah jelas berbeda jauh. Dibawah Tuchel pun jika kalian sebagai junior akan mendapatkan hak istimewa dari dirinya yang membukakakan pintu ruang ganti. “Pak, maaf?”|Tuchel: “Oh tidak apa-apa. Kita adalah satu tim, silahkan masuk lebih dulu saja.”

Kesan lain dari fans yakni hanya karena gonta-ganti formasi dan merotasi para pemain yang dianggap ingin membahagiakan semua orang. *menarik nafas* Tapi sekali lagi itu hak mengemukakan pendapat yang mungkin tidak mengerti maksud dibalik tujuan Tuchel untuk memasang 3 bek, false nine, peran Havertz sebagai SS, atau bahkan pergulatan tempat antara Alonso dan Chilwell yang tiada akhir.

Selama pertandingan berlangsung, situasi yang diterapkan Chelsea untuk menggempur pertahanan Atleti tidak ada habisnya. Seperti pada leg ke-1 bahwa Atleti cukup mahir menyiapkan pilar pertahanan dan menunggu celah untuk mencuri ritme Chelsea agar dapat melakukan serangan balik. Setengah jam berjalan, Hakim Ziyech yang dengan bebas mengisi tempat yang ditinggalkan Mason Mount pun dimaksimalkan dengan baik. Operan silang dari Werner mencipatkan gol untuk Ziyech menggunakan kaki lemahnya.

Entah apa yang ada dalam pikiran Simeone serta kesebelasan timnya yang mungkin sosok yang bekerja hanyalah Jan Oblak dengan susah payah jatuh bangun membendung serangan Chelsea. Dia hanya terlihat di pinggir lapangan frustrasi kepada Suarez dan Felix yang tidak mendapatkan bola sama sekali. Apresiasi tinggi kepada Kovacic serta Kante yang menguasai lini tengah dan bahkam untuk Rudiger serta Zouma yang anti tumbang membendung serangan yang terlihat tidak ada penyerangan dari tim tamu. Atletico Madrid 90 menit didominasi hanya berlarian saja.

Waktu penentuan telah tiba, fans Chelsea bisa lega. Dengan tambahan waktu 5 menit bisa dimaksimalkan oleh Emerson yang mungkin sepanjang hidupnya di Chelsea dipandang sebelah mata karena kalah pamor perseteruan Chilwell dan Alonso. Namun gol yang dia ciptakan adalah sebagai pengingat bahwa Tuchel berhasil menyatukan seluruh elemen generasi yang ada dalam tubuh Chelsea. Thiago Silva memanggil Mount serta Jorginho untuk berpelukan di tribun, Mendy menghampiri Emerson serta rekan tim lainnya untuk merayakan kemenangan manis ini.

Hal yang setidaknya fans Chelsea sadar bahwa perbedaan jarak antar generasi itu ada tapi merekalah yang melanjutkan generasi gemilang Chelsea untuk mendapatkan gelar juara. Terharu rasanya masih diberi umur panjang kepada Chelsea untuk terus hidup di Champions League. Dengan segala cocoklogi yang diungkapkan fans, itu semua adalah bentuk apresiasi serta harapan yang harus ditanggung masing-masing orang untuk satu tujuan yakni juara kuping besar yang kedua kalinya. Perjalanan berikutnya adalah Porto, seperti sebagian besar orang tahu bahwa Porto perlu diberi pujian meski mengalahkan Juventus adalah hal yang tidak diinginkan media. Namun Chelsea dan Porto adalah bentuk perjuangan dari rasa kebersamaan untuk melangkah sejauh mungkin.

Pada akhirnya meski Tuchel menyenangkan semua pemain, semua generasi, dan semua fans Chelsea, tidak ada manusia yang sempurna dan sanggup menyenangkan semua orang. Fokus Tuchel hanya mengayomi orang-orang disekitarnya yang menaruh kepercayaan terhadapnya serta mencintai dirinya sebagai manusia biasa. Waktunya fans Chelsea mengucapkan: “TERIMA KASIH, THOMAS TUCHEL!”

Istanbul, kami datang.

Salam

Fans Far yang terus berikhtiar

Leave a Reply