Enggak Cuma Musik Indie yang Merasa Beda Dengan Konservatif, Olivier Giroud Memiliki Seni Untuk Mencetak Gol.

0
118

Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang? Jarang.

Tak Perlu memikirkan tentang yang akan datang? Chelsea di esok hari…

Saya rasa tidak ada yang menyangka 100% kalau Chelsea bisa menang melawan Atléti Pagi tadi (24/02/21) di Rumania. Seolah-olah salah satu kegiatan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, dengan percaya diri beberapa fans Chelsea diniatkan untuk nazar jika Chelsea menang pada leg 1 UEFA Champions League babak 16 besar. Aneh tapi realistis.

Saat sepak mula dilakukan, tidak lama berselang Mason Mount sang anak muda paling semangat se- kabupaten London mendapatkan kartu kuning yang mengakibatkan dia tidak dapat bermain pada leg ke-2 di Stamford Bridge. Hal ini cukup membuat hati tidak tenang karena satu-satunya pion yang menjadi andalan Chelsea selama ini harus nonton dirumah dan bermain Fortnite. Selama pertandingan memang cukup aneh kalau Atléti bermain fully defensive yang mungkin niatnya berhati-hati untuk tidak salah langkah dan siap counter attack.

Istilah formasi 2-6-1 selama pertandingan membanjiri lini masa media sosial yang memang merepotkan Chelsea untuk penetrasi ke dalam area pertahanan Atléti. Selain final passing yang terlalu deras dan tidak akurat mengakibatkan kewalahan untuk membuka peluang. Meskipun begitu, Atléti juga merepotkan lini pertahanan Chelsea di menit-menit awal dan memang setelah kejadian itu, lini pertahanan dan lini tengah cukup solid. Half Time: Passing and Pray.

Memasuki babak kedua yang wasitnya sering meniup peluit yang mungkin sekalian tes peluit barunya. Fast foward ke menit 70-an berawal dari operan lambung Marcos Alonso ke dalam kotak penalti dan kemelut Mason Mount dengan Hermoso yang mengakibatkan salah mengantisipasi bola. Olivier Giroud yang dikenal dengan defensive foward melakukan tugasnya dengan baik. GOL AKROBATIK TERJADI! Sempat dianggap offside namun VAR mengatakan itu gol!

Layaknya minuman Anggur yang makin lama ditimbun maka makin harum dan cita rasa makin tinggi. Olivier Giroud seringkali menuntaskan golnya dengan drama, dansa, dan rasa. Semuanya menggandung seni dan dibayar tuntas sebagai pemenang Puskas Award 2017 sebagai gol terbaik ala kalajengkingnya itu saat berseragam Arsenal. Sejak saat itu mungkin dirinya merasa bahwa semua gol yang dia diciptakan adalah pertunjukan yang dinilai oleh lima juri di pinggir lapangan. 

Di Chelsea juga tidak kalah menarik. Melawan Southampton (17/18) dan Manchester United (19/20) adalah salah satu gol unik yang pernah dia lakukan untuk London Biru. Bahkan mungkin Mbappe yang katanya “mencetak tiga gol di Spanyol bukan untuk semua orang”… Ah biasa aja. Olivier Giroud pada babak grup UCL (20/21) 4 GOL MELAWAN SEVILLA DENGAN SUNDULAN, KAKI KANAN, KAKI KIRI, PENALTI! Kesempurnaan Anggur yang telah tertimbun pada diri Jiru tidak dimiliki oleh semua orang. Zlatan? Siapa?

Kalau gol Indie yang ditorehkan oleh Olivier Giroud, maka mulai sekarang Puskas Award cukup adil jika diganti dengan Olivier Giroud Award.

Oh iya, terima kasih untuk Giroud yang telah membuat tidur fans Chelsea menjadi tenang karena Chelsea adalah SATU-SATUNYA tim Inggris yang menang melawan Atlético Madrid di laga tandang.

Memang begitu, kok, ketika anak muda (fans Chelsea) krisis kepercayaan terhadap sesuatu (Chelsea FC) maka orang tua (Olivier Giroud) yang memberikan wejangan bahwa untuk tetap optimis terhadap apa yang mereka cintai. Yang jelas, jangan pernah terlalu optimis karena kalian akan mendapatkan kekecawaan yang kedua kalinya.

Membaca kalian sudah selesai, sekarang kalian waktunya memberikan ucapan terima kasih kepada Giroud untuk kebahagiaan kalian hari ini.

Salam

Fans Far yang berterima kasih terhadap VAR

Leave a Reply